syariah dan Kredit
Berikut Materi yang dapat dijadikan masukan perihal jual beli kredit / muamalah dalam Islam
Pengetahuan dan dasar-dasar transaksi kredit dalam Islam
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم أمره أن يجهز جيشا قال عبد الله بن عمرو وليس عندنا ظهر قال فأمره النبي صلى الله عليه و سلم أن يبتاع ظهرا إلى خروج المصدق فابتاع عبد الله بن عمرو البعير بالبعيرين وبالأبعرة إلى خروج المصدق بأمر رسول الله صلى الله عليه و سلم. رواه أحمد وأبو داود والدارقطني وحسنه الألباني
قال ابن عباس رضي الله عنهما: لا بأس أن يقول: السلعة بنقد بكذا وبنسيئة بكذا، ولكن لا يفترقان إلا عن رضا
اشترى رسول الله صلى الله عليه و سلم من يهوديٍّ طعاماً نسيئةً ورهنه درعَه. متفق عليه
الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ
عن جابر قال: لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه، وقال: هم سواء. رواه مسلم
Pengetahuan dan dasar-dasar transaksi kredit dalam Islam
1.
Pengertian Jual Beli Kredit
Jual Beli Kredit /
Angsuran / Cicilan / Tidak Tunai adalah: transaksi jual-beli, dimana barang
diterima pada waktu transaksi dengan pembayaran tidak tunai dengan harga
yang lebih mahal daripada harga tunai serta Pembeli melunasi kewajibannya
dengan cara angsuran tertentu dalam jangka waktu tertentu.
Hakikat membeli barang
secara kredit adalah membeli barang dengan cara berutang. Utang tidak
dianjurkan dalam syariat islam kecuali seseorang sangat membutuhkan barang
tersebut dan ia
merasa mampu untuk melunasinya.
Maka tidak dianjurkan seorang muslim untuk membeli barang yang merupakan
kebutuhan mewah secara kredit.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا
تُخِيفُوا أَنفُسَكُم بَعدَ أَمِنها. قَالُوا: و مَا ذَالِكَ يَا رَسُولَ الله؟
قَل: الدَّينُ
Jangan kalian berikan
rasa takut kedalam diri kalian setelah diri itu tenang! Para sahabat bertanya,
"apa hal tersebut, wahai Rasulullah? Beliau bersabda, "Utang" (HR Ahmad, derajat Hasan)
2. Hukum Jual-Beli Kredit
2.1. Harga Angsuran
Lebih Mahal dari Harga Tunai
2.1.1. Diriwayatkan
dari Abdullah bin ‘Amru bin Al‘Ash radhiallahu ‘anhuma.
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم أمره أن يجهز جيشا قال عبد الله بن عمرو وليس عندنا ظهر قال فأمره النبي صلى الله عليه و سلم أن يبتاع ظهرا إلى خروج المصدق فابتاع عبد الله بن عمرو البعير بالبعيرين وبالأبعرة إلى خروج المصدق بأمر رسول الله صلى الله عليه و سلم. رواه أحمد وأبو داود والدارقطني وحسنه الألباني
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash untuk
mempersiapkan suatu pasukan, sedangkan kita tidak memiliki unta tunggangan,
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk membeli
tunggangan dengan pembayaran ditunda (tidak tunai) hingga datang saatnya
penarikan zakat. Maka Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash pun seperintah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli setiap ekor unta dengan harga dua ekor
unta yang akan dibayarkan ketika telah tiba saatnya penarikan zakat."
(Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ad Daraquthni dan dihasankan oleh Al Albani) (3),dan
"...maka aku beli seekor unta dengan dua/tiga ekor unta yang lebih muda
yang dibayar setelah unta zakat datang. Tatkala unta zakat datang maka Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam membayarnya" (HR Ahmad, sanad hadits ini
dinyatakan shahih oleh Ar Nauth) (4)
- Ibnu Abbas
radhiyallahu 'anhuma berkata:
قال ابن عباس رضي الله عنهما: لا بأس أن يقول: السلعة بنقد بكذا وبنسيئة بكذا، ولكن لا يفترقان إلا عن رضا
"seseorang boleh menjual
barangnya dengan mengatakan: barang ini harga tunainya sekian dan tidak tunainya sekian,
akan tetapi tidak boleh Penjual dan Pembeli berpisah melainkan mereka telah
saling ridha atas salah satu harga" (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, jilid IV,
hal 307)
- Fatwa Syaikh Abdul
Azis bin Baz rahimahullahu berkata:
"jual-beli
kredit hukumnya
boleh, dengan syarat bahwa lamanya masa angsuran serta jumlah
angsuran diketahui dengan jelas saat aqad, sekalipun jual-beli kredit biasanya lebih mahal daripada
jual-beli tunai..." (Majmu' Fatawa Ibnu Baz, jilid XIX,
hal 105)
- Dr. Muhamad Arifin
Badri, MA hafizhahullahu menjelaskan:
Pada kisah ini,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan sahabat Abdullah bin
‘Amer Al ‘Ash untuk membeli setiap ekor onta dengan harga dua ekor onta dengan
pembayaran dihutang. Sudah dapat ditebak bahwa beliau tidak akan rela dengan
harga yang begitu mahal, (200 %) bila beliau membeli dengan pembayaran tunai.
Dengan demikian, pada kisah ini, telah
terjadi penambahan harga barang karena pembayaran yang ditunda (terhutang).
- Dr. Erwandi Tarmizi,
MA hafizhahullahu menjelaskan:
Dalam hadits diatas
dinyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan menukar seekor
unta yang diterima tunai dengan dua/tiga ekor unta yang dibayarkan nanti
setelah unta zakat datang. Ini jelas menunjukkan bahwa boleh menjual barang dengan cara tidak
tunai dengan harga yang lebih mahal dari pada tunai.
2.2. Beberapa
dalil-dalil lainnya yang membolehkan aqad jual-beli kedit:
2.2.1. Keumuman firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ
إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً فَاكْتُبُوهُ. البقرة: 282
“Hai orang-orang yang
beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang
ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (Qs. Al Baqarah: 282)
Ayat ini adalah salah
satu dalil yang menghalalkan adanya praktek hutang-piutang, sedangkan akad
kredit adalah salah satu bentuk hutang, maka dengan keumuman ayat ini menjadi
dasar dibolehkannya perkreditan.
2.2.2. Hadits riwayat ‘Aisyah radhiyallahu
‘anha.
اشترى رسول الله صلى الله عليه و سلم من يهوديٍّ طعاماً نسيئةً ورهنه درعَه. متفق عليه
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli sebagian bahan makanan dari seorang
yahudi dengan pembayaran dihutang, dan beliau menggadaikan perisai beliau
kepadanya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Pada hadits ini, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli bahan makanan dengan pembayaran dihutang,
dan sebagai jaminannya, beliau menggadaikan perisainya. Dengan demikian hadits
ini menjadi dasar dibolehkannya jual-beli dengan pembayaran dihutang, dan
perkreditan adalah salah satu bentuk jual-beli dengan pembayaran dihutang.
2.2.3. Keumuman hadits salam (jual-beli
dengan pemesanan).
Diantara bentuk
perniagaan yang diijinkan syari’at adalah dengan cara salam, yaitu memesan
barang dengan pembayaran di muka (kontan / 100%). Transaksi ini adalah kebalikan
dari transaksi kredit. Ketika menjelaskan akan hukum transaksi ini, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mensyaratkan agar harga barang tidak
berubah dari pembelian dengan penyerahan barang langsung. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam hanya bersabda:
من أسلف فليسلف في كيل معلوم ووزن معلوم إلى أجل معلوم. متفق
عليه
“Barang siapa yang
membeli dengan cara memesan (salam), hendaknya ia memesan dalam takaran yang
jelas dan timbangan yang jelas dan hingga batas waktu yang jelas pula.”
(Muttafaqun ‘Alaih)
Pemahaman dari empat
dalil di atas dan juga lainnya selaras dengan kaedah dalam ilmu fiqih, yang
menyatakan bahwa hukum asal setiap perniagaan adalah halal. Berdasarkan kaedah
ini, para ulama’ menyatakan bahwa: selama tidak ada dalil yang shahih nan tegas
yang mengharamkan suatu bentuk perniagaan, maka perniagaan tersebut boleh atau
halal untuk dilakukan.
Adapun sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam:
من بَاعَ بَيْعَتَيْنِ في بَيْعَةٍ فَلَهُ أَوْكَسُهُمَا أو
الرِّبَا. رواه الترمذي وغيره
“Barang siapa yang
menjual dua penjualan dalam satu penjualan maka ia hanya dibenarkan mengambil
harga yang paling kecil, kalau tidak, maka ia telah terjatuh ke dalam riba.”
Riwayat At Tirmizy dan
lain-lain, maka penafsirannya yang lebih tepat ialah apa yang dijelaskan oleh
Ibnul Qayyim dan lainnya (Sebagaimana beliau jelaskan dalam kitabnya I’lamul
Muwaqqiin dan Hasyi’ah ‘ala Syarah Sunan Abi Dawud) , bahwa makna hadits ini
adalah larangan dari berjual beli dengan cara ‘inah. Jual beli ‘Innah ialah
seseorang menjual kepada orang lain suatu barang dengan pembayaran dihutang,
kemudian seusai barang diserahkan, segera penjual membeli kembali barang
tersebut dengan dengan pembayaran kontan dan harga yang lebih murah.
2.2.4. Hadits Bariroh:
Dari Aisyah
radhiyallahu 'anha berkata : “Sesungguhnya Bariroh datang kepadanya minta
tolong untuk pelunasan tebusannya, sedangkan dia belum membayarnya sama sekali,
Maka Aisyah berkata padanya : “Pulanglah ke keluargamu, kalau mereka ingin agar
saya bayar tebusanmu namun wala’mu menjadi milikku maka akan saya lakukan.”
Maka Bariroh menyebutkan hal ini pada mereka, namun mereka enggan melakukannya,
malah mereka berkata : “Kalau Aisyah berkehendak untuk membebaskanmu dengan
hanya mengharapkan pahala saja, maka bisa saja dia lakukan, namun wala’mu tetap
pada kami.” Maka Aisyah pun menyebutkan hal ini pada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan beliau pun bersabda : “Belilah dia dan merdekakanlah
karena wala’ itu kepunyaan yang memerdekakan.”Dalam sebuah riwayat yang lain :
“Bariroh berkata : “Saya menebus diriku dengan membayar 9 uqiyah, setiap tahun
saya membayar satu uqiyah.” (HR. Bukhori 2169, Muslim 1504)
Segi pengambilan dalil
: Dalam hadist ini jelas bahwa Bariroh membayarnya dengan mengkredit karena dia
membayar sembilan uqiyah yang dibayar selama sembilan tahun, satu tahunnya
sebanyak satu uqiyah.
3. PERSYARATAN -
PERSYARATAN UNTUK KEABSAHAN AQAD JUAL-BELI KREDIT
(AQAD /AKAD JUAL BELI
ANGSURAN / CICILAN yang SYAR'I)
Walaupun aqad
jual-beli kredit dengan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan harga tunai
pada dasarnya dibolehkan, tetapi ada
persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk Keabsahannya, yang jika
tidak terpenuhi , aqad ini bisa menjadi Tidak Sah, bahkan bisa menjadi Riba dan
keuntungannya bisa menjadi Harta Haram.
Persyaratan-persyaratan
tersebut adalah:
3.1. Aqad ini tidak
dimaksudkan untuk melegalkan Riba.
Maka tidak boleh
jual-beli 'inah,
Juga tidak boleh dalam aqad jual-beli kredit dipisah antara harga jual tunai
dan margin yang diikat dengan waktu dan bunga, karena ini menyerupai riba.
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَ
"padahal ALLAH
telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba" (Al Baqarah: 275)
contoh jual-beli
'inah:
diriwayatkan bahwa
istri Zaid bin Arqam bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anhum tentang jual
beli yang dia lakukan. Dia menjual budaknya kepada Zaid seharga 800 dirham
dibayar tidak tunai, lalu Zaid menjual kembali budak itu kepada istrinya
seharga 600 dirham tunai. Maka 'Aisyah berkata , "ini suatu jual beli yang
sangat buruk, beritahukan kepada Zaid bahwa jihadnya bersama Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam telah terhapus pahalanya, kecuali ia bertaubat
(dari jual beli ini). (HR Daruquthni,
dinyatakan hasan oleh Zaila'i)
3.2. Barang terlebih
dahulu dimiliki Penjual sebelum aqad jual beli kredit dilangsungkan.
Dari Hakim bin Hizam
bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا تبع ما ليس عندك,
jangan engkau menjual
barang yang belum engkau miliki, (HR Abu Daud/ Shahih-Al Albani)
3.3. Pihak Penjual
Kredit tidak boleh menjual barang yang telah dibeli tapi belum diterima dan
belum berada ditangannya.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
فلا تبعه حتى تقبضه,
jangan engkau jual
hingga barang tersebut engkau terima, (HR Ahmad/ Hasan-Imam Nawawi)
3.4. Barang yang
dijual kredit bukan berbentuk emas, perak atau mata uang, karena ini termasuk
Riba Ba'i
الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ
“Jika emas dijual
dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir
(salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan
garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan
dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau
membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR.
Muslim no. 1587)
3.5. Barang yang
dijual secara kredit harus diterima Pembelli tunai pada saat aqad berlangsung.
Maka tidak boleh
transaksi jual beli kredit dilakukan hari ini dan barang diterima pada keesokan
harinya. Karena ini termasuk jual beli hutang dengan hutang yang
diharamkan.
3.6. Pada saat
transaksi dibuat harga harus satu dan jelas serta besarnya angsuran dan jangka
waktunya juga harus jelas.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ,anhu
نها رسول الله صلى عليه
وسلم عن بيعتين في بيعة,
Rasulullah shallallahu
‘alayhi wasallam melarang dua harga dalam satu transaksi
(HR Nasa’i/ Shahih-Al
Albani)
Potongan harga kredit
disebabkan pembayaran pelunasan sebelum jatuh tempo hukumnya boleh dengan
syarat pemotongan
harga tidak dicantumkan pada saat aqad dilakukan. (
Majma' Al Fiqh Al Islami / Divisi Fiqih OKI No: 64 taun 1992) - Journal
islamic Fiqh Council, edisi IV, jilid 1, hal 193
3.7. Aqad jual beli
kredit harus tegas. Maka tidak boleh aqad dibuat dengan cara beli sewa
(leasing)
Prinsip leasing yang
diharamkan: terdapat dua aqad yang berbeda dalam satu aqad terhadap sebuah barang
dalam satu jangka waktu. (HHMK cet 6 hal 413)
Leasing bahkan memberi
penalty harga, denda atau biaya-biaya
lain ketika transaksi sudah dijalankan. (potensi riba berlipat)
Adapun pada akad beli
sewa Islami, hanya hukum Ijarah (sewa) yang diterapkan pada barang sewaan
selama masa akad sewa. Setelah berakhir masa sewa maka pemindahan kepemilikan
barang dilangsungkan berdasarkan akad baru (jual-beli, janji hibah atau hibah
yang yang dikaitkan dengan pelunasan uang sewa terakhir). (AAOIFI, Al Ma'ayir
Asy Syar'iyyah, hal 122)
3..8. Tidak boleh
membuat persyaratan kewajiban membayar denda, atau harga barang menjadi
bertambah, jika pembeli terlambat membayar.
Karena ini adalah
bentuk riba yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah dimasa Nabishallallahu
‘alayhi wasallam.
عن جابر قال: لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه، وقال: هم سواء. رواه مسلم
Dari sahabat Jabir
radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
melaknati pemakan riba (rentenir), orang yang memberikan/membayar riba
(nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya. Dan beliau
juga bersabda: “Mereka itu sama dalam hal dosanya.” (HR Muslim)
contoh Praktek Aqad
Jual Beli Rumah / Kendaraan dengan Angsuran Syar'i yang telah dilaksanakan di
BMB (BMT Bintaro dan/atau Mitra) adalah dengan kriteria dibawah ini;
" KRITERIA RUAS
(Rumah Angsuran aqad Syar’i) BMT BINTARO (BMB) "
………………………………………………………….………………………………………..
1. Booking Fee (BF)
dan Down Payment (DP) dari End Buyer dibayar ke MITRA BMB
- MITRA BMB adalah
Penjual/Pemilik Rumah pada saat Aqad.
( لا تبع ما ليس
عندك, jangan engkau menjual barang yang belum engkau miliki, HR Abu Daud/
Shahih-Al Albani).
- MITRA BMB
menyerahkan Kunci/ Bagian Dokumen/ Kwitansi Kepemilikan Rumah.
( فلا تبعه حتى تقبضه,
jangan engkau jual barang hingga barang tersebut engkau terima, HR Ahmad/
Hasan-Imam Nawawi).
2.Harga Jual Harus
Satu serta Jelas Nilai Angsuran dan Jangka Waktunya
MITRA BMB menerbitkan
TOTAL Harga Jual; Nilai Angsuran; Jangka Waktu sebelum menerima Booking Fee/DP
dari End Buyer. ( نها رسول الله صلى عليه وسلم عن بيعتين في بيعة,
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam melarang dua harga dalam
satu transaksi, HR Nasa’i/ Shahih-Al Albani).
3. Jangka Waktu Maks
Proses Persetujuan: 3 Bulan setelah BF/DP (Khiyar Syarat)
Jangka Waktu Proses
Persetujuan Penilaian Persyaratan Pemberian Fasilitas Pembelian Cara Angsuran
maksimum 3 bulan, jika tidak disetujui akibat pembeli tidak memenuhi
persyaratan administrasi maka: DP dikurangi BF dikembalikan 100%, Kepemilikan
Rumah kembali kepada Penjual. ( المسلمون على شروطهم الا شرطا حرم حلالا او احل
حراما, orang Islam terikat dengan persyaratan yang mereka buat, selagi tidak
mengharamkan yg halal atau menghalalkan yg haram, HR Tirmidzi/ Shahih-Al
Albani).
4. Tidak Dikenakan
Denda Keterlambatan Pembayaran Angsuran.
( كل قرض جر منفعة فهو
ربا, setiap pinjaman yg memberikan keuntungan bagi pemberi pinjaman adalah
Riba, Kaidah Fikih. Al Hawi Kabir, Al Mawardi).
5. Jika Menunggak
Angsuran 3 Bulan Berturut-turut: Total Sisa Hutang menjadi Jatuh Tempo Tunai 1
hari setelah masa tunggakan angsuran 3 bulan berturut-turut terjadi
dan Penjual Berhak Menjual Rumah yang telah dibeli untuk Menutupi Sisa Hutang
serta Sisa Penjualan Rumah dipotong Utang Dikembalikan kepada Pembeli.
Angsuran wajib dibayar
pembeli sesuai tanggal jatuh tempo yg tercantum pada aqad.
( مَطْلُ الغَنِيِّ
ظُلْمٌ , يُحِلُّ عُقُوبَتَهُ وَ عِرْضَهُ, Penundaan pelunasan Hutang orang
yang mampu merupakan keZhaliman, dibolehkan menjatuhkan hukuman kepadanya
dan dibolehkan mencemarkan nama baiknya, HR Bukhari).
Sedikit tambahan link berbagi mengenai cara memiliki rumah tanpa riba
https://www.youtube.com/watch?v=lBid4cLEfLY
bisa coba lihat kunjungi dan eksplorasi segala yang ada dengan tautan-tautan link di atas ini.
Terimakasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
https://www.youtube.com/watch?v=lBid4cLEfLY
bisa coba lihat kunjungi dan eksplorasi segala yang ada dengan tautan-tautan link di atas ini.
Terimakasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Dr. Erwandi Tarmizi,
MA ( TAHQIQ 6 Dzulhijjah 1434H)
MDG/BMB/14SYAWAL1434H/22AGUSTUS2013M
Daftar Pustaka :
1) Kitab Harta Haram
Muamalat Kontemporer Penulis: Dr. ErwandiTarmizi, MA
2) Kitab Pengantar
Fiqih Muamalat dan Aplikasinya Dalam Ekonomi Modern Penulis: Dr. Yusuf Al
Subaily,
Dosen Pasca Sarjana
Universitas Islam Imam Muhammad Saud, Riyadh
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Wallaahu a’lam
Penyusun : MUHAMMAD
DIAN GHAZALI bin KAHARUDDIN
Penyelenggara Pendidikan dan
Latihan / DIKLAT MUAMALAH MALIYAH
Koperasi Syariah BMT Bintaro
7 Jumadil Awal 1435 H
/ 8 Maret 2014 M
Komentar
Posting Komentar